Sastra anak adalah sastra anak-anak dengan rentang usia bayi sampai
remaja, termasuk buku-buku “berkualitas” baik, melalui prosa dan puisi,
fiksi dan nonfiksi. (Tomlinson dan Lynch-Brown dalam D. M. Barone, 2011:
6). Lebih lanjut yang dimaksud dengan buku yang berkualitas
adalah salah satu yang pada saat tertentu menyebabkan pembaca merasa dan
berpikir. Tunnell dan Jacobs (2008) berpendapat topik buku yang bagus
adalah yang menuangkan "rasa hormat". D. M. Barone (2011: 6)
Selain
itu, ada beberapa pendapat lain terkait dengan definisi sastra anak.
Menurut B. Nurgiyantoro (2005: 6) Sastra anak adalah sastra yang secara
emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak yang
berangkat dari fakta konkret yang dapat diimajinasikan. Sedangkan
menurut Davis Sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak dengan
pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisnya juga
dilakukan orang dewasa. Dalam Sarumpaet (2010: 2).
Lukens (2003)
mendefinisikan sastra anak adalah sebuah karya yang menawarkan dua hal
utama: kesenangan dan pemahaman. Heru Kurniawan (2009: 22). Senada
dengan apa yang disampaikan oleh Seorang penyair Italia, Quintus
Horatius Flaccus berpendapat bahwa sastra berfungsi ganda “Dulce Et
Utile” (Menghibur dan Bermakna), jadi sastra paling tidak harus memuat
dua fungsi yang dimaksud Flaccus. Dari beberapa definisi yang telah
diuraikan di atas dan ditambah dengan muatan fungsi sastra menurut
Flaccus.
Definisi lain tentang sastra anak adalah cerita yang mengacu
pada korelasi dengan dunia anak-anak (dunia yang dipahami anak) dan
bahasa yang digunakan sesuai dengan perkembangan intelektual dan
emosional anak (bahasa yang dipahami anak-anak). Heru Kurniawan (2009:
22).
Jadi, sastra anak dapat difokuskan untuk anak-anak dengan
rentang usia dari 0-11/12 tahun atau berdasarkan pada teori psikologi J.
Piaget (Sensorimotor, tahap Preoperasional, dan tahap Operasional
Konkret), yang pada masa ini anak-anak hanya dapat memahami sesuatu yang
bersifat konkret, adapun imajinasi yang bersifat fantasi atu
berlebihan, itu semua masih dapat diterima oleh anak-anak.
Ciri-ciri sastra anak
Ada beberapa yang menjadi ciri
khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau
sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari
Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005).
a) Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu.
Setiap
tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan
terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan
tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung.
b) Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar
Untuk
sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari
iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan
sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran
gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian.
c) Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Bahasa
yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh
anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya
sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa.
d) Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian
Desain
buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku
anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang
menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik
perhatian.
e) Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll).
Penceritaan
selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin
disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita
fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami
anak-anak.
f) Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama.
Penceritaan
dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama
sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis
dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan
sifat baik.
g) Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).
Penceritaan,
penggambaran, latar, dll. Selalu dikaitkan dengan psikologi anak yang
hanya dapat memahami sesuatu yang bersifat konkret.
Rabu, 02 September 2015
Definisi:
Kalimat pasif merupakan kalimat yang subjeknya setelah predikat. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai suatu perbuatan atau aktivitas. Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di-.
Adapun ciri-ciri dari kalimat pasif adalah:
Kalimat pasif merupakan kalimat yang subjeknya setelah predikat. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai suatu perbuatan atau aktivitas. Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di-.
Adapun ciri-ciri dari kalimat pasif adalah:
- Subjeknya sebagai penderita.
- Predikatnya berimbuhan di-, ter-, atau ter-kan.
- Predikatnya berupa predikat persona (kata ganti orang, disusul oleh kata kerja yang kehilangan awalan). Kalimat pasif terdiri dari dua:
- Kalimat pasif transitif adalah kalimat pasif yang memiliki objek.
- Jambu dilempar Tono.
- Ikan mas dimasak Bu Susi.
- Ayam dipukul Udin.
- Novel dibaca Andi di kamar.
- Baju yang bersih telah disetrika Ibu.
- Pameran itu akan dibuka oleh Pak Bupati.
- Buku itu sudah kubeli.
- Soal-soal itu sedang mereka kerjakan.
- Makalah ini harus kami tulis kembali.
- Pak Lurah dimintai pertanggung jawaban oleh Pak Camat.
- Ali terkejut mendengar kematian sahabatnya.
- Bunga anggrek hitam itu terinjak si Anita.
- Kalimat pasif intransitif adalah kalimat pasif yang tidak memiliki objek.
- Buku dibeli.
- Mobil sedang dicuci.
- Mobil itu kemarin tertabrak.
- Topi itu terlempar ke sungai.
Langganan:
Postingan (Atom)